Harga emas minggu ini bisa dibilang seperti naik roller coaster—kadang naik, kadang turun, bikin banyak investor bingung harus ambil langkah apa. Penyebabnya? Karena memang tidak banyak kabar positif yang bisa jadi penopang harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Mengacu pada data terbaru Jumat (18/7/2025), harga emas dunia ditutup di angka US$ 3.349,26 per troy ons. Ada kenaikan kecil sekitar 0,32%, tapi kalau dihitung dari awal minggu, justru ada penurunan tipis 0,19%.
Dolar Kuat, Harga Emas Kena Imbas
Salah satu faktor utama yang bikin emas goyah adalah pergerakan dolar Amerika Serikat. Walaupun indeks dolar sempat turun 0,25% ke level 98,48 di akhir pekan, tapi secara keseluruhan dolar sudah naik 0,64% selama seminggu ini. Nah, kalau dolar makin kuat, otomatis emas jadi terasa lebih mahal bagi pembeli dari luar AS.
Saat ini pasar masih dihantui isu utang pemerintah AS dan ketidakpastian soal tarif perdagangan. Nggak heran kalau emas tetap jadi incaran sebagai aset aman.
Baca Juga:
Harga Emas Ngegas Lagi! Ini Dia Biang Keroknya
Harga Emas Loyo Lagi? Ini Penyebab dan Fakta Terbarunya!
Sentimen Global Bikin Harga Emas Galau
Ketidakpastian dari berbagai kabar global bikin harga emas cenderung bolak-balik. Salah satu contohnya adalah pernyataan Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang bilang tidak akan memecat Ketua The Fed Jerome Powell, tapi tetap membuka peluang. Dia juga masih saja mengkritik soal suku bunga yang nggak kunjung dipangkas.
Di sisi lain, Gubernur The Fed Adriana Kugler justru bilang bahwa sebaiknya suku bunga belum perlu diturunkan karena efek tarif dagang yang mulai terasa di pasar.
Para pelaku pasar sendiri memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga di akhir tahun, totalnya sekitar 50 basis poin. Biasanya, saat suku bunga turun, harga emas malah naik karena emas adalah aset yang tidak menghasilkan bunga tapi aman buat lindung nilai saat ekonomi tidak pasti.
Kenapa Emas Nggak Langsung Melambung?
Meskipun emas sering dicari saat ekonomi dunia lagi galau, kali ini ada faktor lain yang bikin pergerakannya nggak semulus itu. Data penjualan ritel di AS untuk bulan Juni ternyata cukup bagus, bikin dolar makin kuat. Hal ini memicu minat risiko (risk appetite) meningkat, sehingga banyak investor memilih instrumen lain ketimbang emas.
Selama seminggu ini, emas spot turun sekitar 0,5%, padahal sebelumnya sempat mencatatkan dua pekan kenaikan tipis. Harga emas futures untuk bulan September juga stabil di sekitar US$ 3.344,62 per ons.
Logam Lain Malah Lebih Unggul
Sementara emas galau, platinum justru tampil sebagai bintang minggu ini. Harganya sukses nembus level US$ 1.400 per ons dan saat ini berada di kisaran US$ 1.465,43 per ons—itu artinya naik sekitar 5,5% selama seminggu. Ini jadi level tertinggi platinum dalam 11 tahun terakhir.
Banyak analis bilang, kenaikan harga platinum ini didorong oleh ekspektasi pasokan yang semakin ketat dan permintaan yang meningkat. Apalagi dibanding emas, platinum dan perak terlihat lebih menarik buat sebagian trader karena harganya relatif lebih murah.
Untuk logam lainnya seperti perak dan tembaga, pergerakannya cenderung datar. Perak saat ini ada di kisaran US$ 38,12 per ons, turun tipis sekitar 0,5% minggu ini. Tembaga juga stabil, baik di bursa London maupun COMEX, dengan pergerakan naik sekitar 0,3%-0,6%.
Baca Juga:
Harga Emas Masih Tertekan, Tapi Peluang Naik Tetap Terbuka
Harga Emas Naik Turun: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pasar logam mulia saat ini lagi dalam fase serba nggak pasti. Emas memang masih jadi pilihan banyak investor saat kondisi global sedang tidak menentu, tapi penguatan dolar dan ketidakjelasan arah suku bunga bikin pergerakan emas jadi tersendat. Di sisi lain, logam lain seperti platinum malah mencuri perhatian karena performanya yang jauh lebih kinclong.
Mau update terus soal dunia bisnis, marketing, dan ekonomi? Follow Instagram kami di @seoultra.id biar nggak ketinggalan info menarik lainnya!




