Selama dua tahun terakhir, Kecerdasan Buatan (AI) menjadi topik yang hangat diperbincangkan, namun realitasnya masih jauh dari harapan. Banyak pihak memprediksi bahwa teknologi AI generatif akan membawa perubahan besar pada perekonomian dunia dan memicu hilangnya jutaan pekerjaan. Meski demikian, hingga saat ini, dampak signifikan dari AI belum benar-benar terasa.
Menurut data dari Biro Sensus Amerika, hanya 6% perusahaan yang memanfaatkan kecerdasan buatan dalam proses produksi barang dan jasa. Selain itu, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan output saat ini masih tertinggal jauh dibandingkan puncak kejayaan era komputer pada tahun 1990-an.
Mengapa Kecerdasan Buatan Belum Memberikan Dampak Besar?
Seperti halnya AI saat ini, era awal komputer juga diwarnai oleh prediksi besar. Pada tahun 1965, pakar komputer Herbert Simon memproyeksikan bahwa dalam 20 tahun, komputer akan mampu menggantikan pekerjaan manusia. Namun, dua dekade kemudian, perubahan besar yang diharapkan masih belum terasa. Bahkan, pada 1987, ekonom Robert Solow dengan sindiran terkenal menyatakan, “Era komputer terlihat di mana-mana, kecuali dalam statistik produktivitas.”
Baca Juga:
Apakah Apple Siri Lebih Baik Dari ChatGPT?
AI Bantu Prediksi Risiko Jantung dan Lawan Hoaks Digital
Transformasi ekonomi baru benar-benar terasa pada akhir 1990-an, hampir tiga dekade setelah komputer pertama kali diperkenalkan. Faktor utama yang mendorong ledakan produktivitas saat itu adalah investasi besar dalam teknologi informasi, penurunan harga perangkat keras dan perangkat lunak, serta integrasi teknologi ke dalam operasional bisnis.
Apakah Pola yang Sama Berlaku untuk AI?
Di akhir 1990-an, perusahaan secara agresif meningkatkan belanja untuk teknologi informasi, termasuk perangkat keras, jaringan, dan perangkat lunak. Antara 1995-2000, investasi rata-rata tumbuh 20% per tahun. Namun, saat ini, investasi dalam teknologi informasi, khususnya AI, hanya tumbuh sekitar 4% per tahun.
Sebagian besar investasi AI juga lebih terfokus pada aset tak berwujud, seperti algoritma dan data, yang sulit diukur dibandingkan modal fisik. Pengeluaran untuk perangkat lunak komersial dan sistem khusus berbasis AI pun masih sangat rendah dibandingkan dengan investasi teknologi pada era komputer.
Salah satu faktor yang mempercepat revolusi komputer adalah penurunan harga perangkat keras dan perangkat lunak hingga sepertiga pada akhir 1990-an. Sebaliknya, harga perangkat lunak dan peralatan AI saat ini cenderung stagnan, bahkan naik dalam beberapa kuartal terakhir.
Keberhasilan revolusi teknologi pada 1990-an tidak hanya karena perangkat yang lebih murah, tetapi juga integrasi teknologi ke dalam bisnis. Contohnya, Walmart berhasil meningkatkan produktivitas dengan sistem Retail Link, yang memungkinkan pemasok memantau data penjualan dan inventaris secara real-time.
Sebaliknya, penggunaan AI saat ini masih terbatas. Contohnya, perusahaan keuangan menggunakan AI untuk mendeteksi penipuan, namun banyak perusahaan lain belum memiliki infrastruktur data yang cukup untuk mengoptimalkan teknologi AI.
Baca Juga:
Apakah AI Baik untuk Masa Depan Pekerjaan Kita?
Apa Dampak dari Ketergantungan pada AI?
Perubahan Fundamental Kecerdasan Buatan Dibutuhkan
Untuk mewujudkan potensi penuh AI, perusahaan perlu melakukan transformasi mendasar dalam operasionalnya. Dalam ekonomi, perubahan sering kali terasa lambat pada awalnya, tetapi ketika momentum tercapai, dampaknya bisa melesat jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Meskipun AI memiliki potensi besar untuk mendorong lonjakan produktivitas, saat ini teknologi tersebut masih berada dalam tahap awal perkembangan, jauh dari revolusi besar seperti yang terjadi di era 1990-an.
